Artikel Kesehatan : Evaluasi Program PPIA untuk Eliminasi Penularan HIV dan IMS dari Ibu ke Anak di Kabupaten Tangerang
Pendahuluan
HIV dan Infeksi Menular Seksual (IMS)
masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan masyarakat global dan
nasional. Menurut data UNAIDS (2023), lebih dari 39 juta orang hidup dengan HIV
di seluruh dunia, dengan sekitar 1,3 juta perempuan positif HIV melahirkan
setiap tahunnya. Tanpa intervensi, risiko penularan HIV dari ibu ke anak dapat
mencapai 15–45%, baik selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui (World Health
Organization, 2022).
Di Indonesia, berdasarkan laporan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023), jumlah kumulatif kasus HIV
hingga akhir 2022 diperkirakan mencapai 526.841, dengan cakupan pengobatan
antiretroviral (ARV) yang masih rendah. Tantangan yang signifikan termasuk
stigma sosial terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS), keterbatasan akses
layanan, dan kurangnya edukasi publik. Studi oleh Lazuardi, Widjanarko, dan
Setyawan (2021) menunjukkan bahwa pelibatan masyarakat dan penguatan layanan
komunitas dapat meningkatkan kesadaran serta keterlibatan kelompok rentan,
terutama perempuan dan anak.
Kabupaten Tangerang merupakan wilayah
dengan populasi besar di Provinsi Banten, dengan jumlah penduduk mencapai
3.352.472 jiwa (BPS Kabupaten Tangerang, 2023). Daerah ini terdiri dari 29
kecamatan dan memiliki kawasan industri padat, urbanisasi tinggi, serta
mobilitas penduduk yang cepat, yang menjadi faktor risiko penyebaran HIV dan
IMS. Berdasarkan pemetaan epidemiologis, sebagian besar kasus baru HIV di
Kabupaten Tangerang berasal dari transmisi heteroseksual dan vertikal.
Dalam rangka mengatasi tantangan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mengimplementasikan program Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) yang merupakan bagian dari kebijakan nasional PMK No. 23 Tahun 2022 dan Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang No. 15 Tahun 2016 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS. Program ini mengintegrasikan layanan HIV, IMS, dan Hepatitis B ke dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), keluarga berencana (KB), serta remaja. Studi oleh Mahy, Penazzato, Ciaranello, dan Rowley (2023) menegaskan bahwa pendekatan terintegrasi merupakan strategi paling efektif untuk mencapai eliminasi penularan vertikal di negara berpenghasilan menengah.
Artikel selengkapnya dapat dilihat di https://drive.tangerangkab.go.id/s/a899mQXyAHyECZ6
Berita Lainnya
-
31 Jul 2026
Tingkatkan Kesehatan Pelajar, Dinas Kesehatan Integrasikan CKG, Aksi Bergizi, dan Gemarikan di SMKN 2 Tangerang
KABUPATEN TANGERANG – Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang menggelar rangkaian kampanye edukatif dan pelayanan kesehatan terpadu ...
-
30 Jul 2026
Majalah INTAN: Informasi Seputar Kesehatan Kabupaten Tangerang Edisi Juli 2026
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kembali menghadirkan Majalah INTAN (Informasi Seputar Kesehatan) Edisi Mei 2026 sebagai ...
-
29 Jul 2026
Perkuat Ketahanan Kesehatan Daerah, Pemerintah Kabupaten Tangerang Inisiasi Pembentukan Tikorda Zoonosis Dan Penyakit Infeksi Baru (PIB)
Kabupaten Tangerang bergerak cepat dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru ...
-
28 Jul 2026
Peringatan Hari Hepatitis Sedunia ke-17: Perluas Akses, Perkuat Kolaborasi, Wujudkan Eliminasi Hepatitis!
TANGERANG — Dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia ke-17 yang jatuh pada 28 Juli 2026, ...
-
24 Jul 2026
Tingkatkan Sanitasi Pasar, Dinas Kesehatan Gelar Penyuluhan CTPS dan Pembudayaan Hidup Sehat di Pasar Gadung
Tingkatkan Sanitasi Pasar, Dinkes Kab. Tangerang Gelar Penyuluhan CTPS dan PHBS di Pasar Gadung TIGARAKSA ...