34 Balita Binaan Puskesmas Legok Kini Gizinya Terus Meningkat

DI TENGAH Pandemi Covid-19, Petugas Gizi Puskesmas Legok tetap gigih melaksanakan kegiatan Pos Gizi di 3 desa binaan, yaitu di Desa Palasari, Desa Rancagoong dan Desa Serdang Wetang.

Pelaksanaan kegiatan sendiri telah dijalankan sejak Agustus dengan 3 sesi. Sesuai program setiap satu sesi selesai, maka diliburkan 10 hari untuk memberi waktu kajian evaluasi.

Sesi satu dan dua telah selesai dilaksanakan di 3 desa di atas, terinci untuk sesi pertama di Desa Palasari  pada 10 Agustus, Desa Rancagoong 12 Agustus, dan Desa Serdang Wetan  26 Agustus. Sesi dua dilaksanakan secara bertahap setelahnya.

Agus Mini, Pemegang Program Gizi Puskesmas Legok, kemarin, menjelaskan ada 34 anak yang terkategori kurang gizi dari 3 desa itu yang mendapat pembinaan kesehatannya.

Dari evaluasi kegiatan sesi pertama membuahkan hasil yang cukup baik, yaitu hampir rata-rata balita yang kurang gizi timbangannya naik 100 gram-900 gram, katanya.

Untuk sesi kedua juga sudah selesai dilaksanakan pada awal September dan selama 20 hari evaluasi terdapat kenaikan berat-badan balita. “Kini tinggal menunggu kegiatan sesi ketiga. Semoga saja hasil yang diperoleh lebih baik lagi.”

Dikatakan Agus Mini, dalam kegiatan pos gizi para peserta yang merupakan orangtua balita diberikan pembinaan 4 pola aktifitas yang harus dilakukan di setiap harinya kepada balitanya, terinci: (1) Pola pemberian makanan; (2) Pola asuh; (3) Pola kebersihan diri; (4) Pola pelayanan kesehatan.

Selama dalam kegiatan ini, pada saat libur setelah mengikuti sesi, para petugas gizi puskesmas di setiap harinya melakukan kunjungan rumah memantau program 4 pola itu, termasuk melaksanakan pemberian telur ayam selama 10 hari dan pembinaan kesehatan lainnya.

Sementara dr Risda Nandini Yanumasari, Kepala Puskesmas Legok, berharap para peserta pos gizi bisa menerapkan semua materi pembinaan yang telah diberikan dalam kehidupan sehari hari, khususnya terkait 4 pola hidup sehat dan bergizi.

“Jika pola-pola itu benar-benar dijalankan dan dipatuhi, maka dalam waktu tak terlalu lama akan ada kenaikan berat-badan balitanya, sehingga pertumbuhannya juga akan semakin baik,” katanya.

Diakuinya untuk mendanai kegiatan ini memang belum bisa sepenuhnya terdukung, namun Petugas Gizi Puskesmas Legok punya terobosan upaya, yaitu dengan menyertakan sejumlah perusahaan yang siap memberikan dana CSR-nya.

“Saya berharap semoga saja kegiatan ini bisa terus dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga balita di wilayah kerja kami bisa terbebas dari gizi buruk dan gizi kurang,” harap dr Risda Nandini Yanumasari.