Jangan Khawatir Berlebihan Pada Orang Masuk Rumah Singgah Covid-19

SUDAH benarkah sikap masyarakat untuk khawatir bila harus masuk Rumah Singgah Covid-19? Apakah kekhawatiran yang ada sangat berlebihan karena menganggapnya sebagai momok menakutkan?

Ataukah kekhawatiran itu disebabkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat atau rumah singgah? Benarkah pula anggapan bahwa orang dimasukkan ke rumah singgah berarti sudah positif terkena Virus Covid-19?

Penanggung-jawab Rumah Singgah Covid-19 Griya Anabatik, dr H Achmad Muklis MARS, Senin (18/5/2020), menjelaskan Rumah Singgah Griya Anabatik menjadi gedung isolasi orang suspeck Covid-19.

Fasilitas ini disediakan sebagai bagian dari usaha Pemkab Tangerang menjaga kesehatan masyarakat dari paparan virus Covid-19. Gedung ini menjadi sarana bagi orang-orang yang terkategori Rekastif Covid-19 yang ditetapkan Tim Dinkes sesuai hasil rapid test yang dilakukan di wilayah zona merah.

“Bila hasilnya reaktif, maka segera orang itu di-sweb. Setelahnya orang tersebut dibawa ke rumah singgah sebagai upaya pencegahan orang itu menularkan virus kepada warga atau anggota keluarga lainnya,” ungkap dr H Achmad Muklis MARS.

Di rumah singgah, selanjutnya orang itu disebut pasien yang oleh petugas kesehatannya dijaga dengan mendapat pelayanan kesehatan terbaiknya, ucapnya.

Petugas pun menjaga orang tersebut agar tidak keluar gedung atau melalukan kontak dengan yang lain, sampai berdasar hasil pengobatan dan penelitian orang itu dinyatakan negatif Covid-19. Kalau hasil sweb orang itu positif, maka orang itu akan dirujuk ke RS Infeksi untuk pengobatannya.

FASILITAS NYAMAN

Sesuai keterangan diperoleh, Pemkab Tangerang sendiri telah menyediakan rumah singgah dengan senyaman mungkin agar pasien nyaman selama mengisolasi dirinya.

Di Rumah Singgah Covid-19 Griya Anabatik, setiap pasien menempati satu kamar dengan fasilitas tersedia TV, WiFi, ber-AC, lemari pakaian, dan kamar mandi.

Selama Ramadhan, bagi yang tidak berpuasa disediakan makan 3 kali sehari. Bagi yang berpuasa diberi takjil, makan buka puasa, dan makan Sahur yang diantar petugas ke kamar masing-masing pasien.

Lalu di setiap harinya, dilakukan pemeriksaan kesehatan para pasien sebagai bagian ketat pengontrolan kesehatannya sambil menunggu keluarnya hasil sweb dan hasil pemeriksaan darah dari laboratorium.

AKTIFITAS HARIAN

Sementara aktifitas harian para pasien rumah singgah, selain beribadah di kamar masing-masing, ada juga kegiatan senam di kamar masing-masing yang dikontrol melalui kamera CCTV oleh petugas, termasuk dipantau meminum vitamin C dan istirahat yang cukup.

Dalam upaya mengembalikan imun tubuh, pasien rumah singgah diberi vitamin C dan E, yang juga bisa dilakukan di rumah masing-masing bagi yang mengisolasi diri sendiri di rumah.

Kalau para petugas menggunakan alat pelindung diri (APD), keterangan diperoleh, karena sudah menjadi bagian perlengkapan tugas.

Melihat perlakuan pelayanan kesehatan dan pengetatan isolasi diri pasien di satu kamar, sudah selayaknya masyarakat tidak takut berlebihan terhadap orang yang telah masuk rumah singgah.

Berdasar data, lebih dari 50% orang yang masuk isolasi di rumah singgah, selanjutnya dinyatakan sehat. Lalu, mereka pun diperbolehkan pulang sesuai hasil sweb yang menyatakan mereka negatif Covid-19.