Dihentikan Penggunaan Obat & Injeksi Mengandung Ranitidine

DINKES Kabupaten Tangerang melalui Seksi Farmasi dan Pengawasan Pangan pada Bidang Pelayanan Kesehatan, segera melakukan penghentian peredaran, pemanfaatan, ataupun penjualan produk obat yang mengandung Ranitidine.

Penghentian ini dilakukan menyikapi Surat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI No: T-PW.01.13.35351.09.193510, tertanggal 18 September 2019, tentang Adanya Cemaran Nitrosodimethylamine (NDMA) Pada Produk Yang Mengandung Bahan Aktif Ranitidine.

Kegiatan ini sendiri, tentunya sebagai langkah proaktif untuk menjaga keamanan kesehatan para pemakainya, papar Desi Tirtawati S.Farm Apt, Kepala Seksi Farmasi dan Pengawasan Pangan.

Adapun jenis-jenis obat yang dihentikan peredaran, pemanfaatan, atau penjualannya, di antaranya: (1) Ranitidine 25 mg/ml Injeksi Generik; (2) Ranivel Injeksi; (3) Ranitidine Tablet 150 mg Generik; (4) Ranivel Tablet 150 mg; (5) Ranivel Tablet 300 mg; (6) Ranivel Syrup.

Sementara untuk obat di luar list di atas, kata dia, dinyatakan di-hold sementara dan tidak digunakan dalam pelayanan.

“Jika ada info hasil uji dari produsen dan hasilnya melebihi ambang,  maka obat baru ditarik. Namun jika tidak melebih ambang atau tidak terdeksi, maka akan ada pemberitahuan lebih lanjut,” jelas Desi Tirtawati S.Farm Apt.

Lebih lanjut Kepala Seksi Farmasi dan Pengawasan Pangan ini, menjelaskan penghentian pemakaian ini dilakukan dalam rangka kewaspadaan, sampai ada informasi terbaru dari hasil pengujian dari BPOM.

“Kami berharap cara ini bisa menjaga dan melindungi para pasien dan masyarakat dari hal-hal yang dapat menimbulkan resiko yang membahayakan kesehatan,” ucapnya.

Sementara Muji Harja S.Farm Apt, Kepala UPT Instalasi Farmasi, mengakui saat ini pihaknya telah memberitahukan kepada seluruh puskesmas untuk tidak memberikan produksi obat sesuai tertera dalam list obat yang disebutkan BPOM RI.

“Penghentian ini harus dilakukan sampai pemberitahuan lebih lanjut,” pungkasnya.