Penuhi Kemanusiaan, UPT PSC Beri Bantuan Warga Tangsel

TIGARAKSA – Memenuhi sisi kemanusiaan, UPT Publik Safety Center (PSC) Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang pun memberikan bantuan pelayanan kepada warga mengalami kegawat-daruratan di wilayah Kota Tangerang Selatan.Kondisi tercipta ketika keluarga pasien asal kota tetangga daerah itu menelepon kontak 119 sebagai kontak senter UPT PSC Dinkes Kabupaten Tangerang untuk meminta bantuan mobil ambulance mengantar pasien ke RSCM.Petugas PSC yang selalu siaga dalam melaksanakan tugas, terlebih dahulu melakukan koordinasi ke jajaran Dinas Kesehatan Kota Tangsel, karena pemohon bantuan mobil itu datang dari warga Kota Tangsel.Kepala UPT PSC Dinkes Kabupaten Tangerang, dr Yekti Wulandari MARS, Senin (25/2/2019, menjelaskan dalam melaksanakan tugas pihaknya memang harus fleksibel untuk memberi bantu kegawat-daruratan. Setelah koordinasi terjadi, selanjutnya petugas UPT PSC bersama ambulance datang ke rumah penelepon dan membawanya ke RSCM Jakarta.Penelepon adalah Keluarga Agus Susilo (41 tahun) dan Sri Mulyati Joharningsih (40 tahun), warga Kota Tangsel. Anaknya yang bernama Pinandito Abid Respationo (3 tahun) mengidap penyakit terkategori langka yaitu Pompe. Penyakit Pompe adalah penyakit Kelainan Multisistem Langka Genetik yang disebabkan Mutasi Gen Acid Alpha-Glucosidae (GAA).“Petugas kami merasa senang dapat membantu keluarga ini semoga dapat segera diberikan kesembuhan,” ucap dr Yekti Wulandari MARS. PENYAKIT LANGKADampak penyakit ini, tubuh penderita tidak bisa memecah Glikogen menjadi Glukosa, akibatnya Glikogen ini menumpuk di bagian jaringan tubuh, terutama di otot tulang, otot halus, dan jantung, yang berujung merusak fungsi dan struktur jaringan sehingga kesulitan bernapas. Penyakit ini baru kali pertama ditemukan di Indonesia.Dito harus menjalani terapi rutin seminggu sekali, tergantung pula pada kesiapan obat dan dokter di RSCM. Dito menjalani Trakheostomi (tenggorokan dibuat lubang pernapasan) dan memakai ventilator. Obat yang dipesan pun berasal dari luar negri. Keluarga ini bukan orang berada, namun banyak bantuan dan donatur yang memberi bantuan, sehingga dapat meringankan keluarga ini.Walau keluarga sudah pasrah dengan penyakit yang dideritanya anaknya, namun Dito harus melakukan terapi seumur hidup. Sampai kemarin keluarga ini tetap berusaha untuk dapat meringankan rasa sakit yang dideritanya anaknya.