Dinkes Ajak OPD & Masyarakat Eleminasi Kusta-Frambusia

PANONGAN – Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama Dinas Kesehatan mengajak seluruh OPD dan masyarakat untuk bekerja-sama mengeleminasi kasus Kusta dan Frambusia hingga tahun 2020.
Eleminasi kedua penyakit ini sesuai target yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI. Terkait itu, Dinkes Kabupaten Tangerang pun menggelar pertemuan “Advokasi Intensifikasi Penemuan Kasus Kusta dan Frambusia di Kabupaten Tangerang” selama dua hari di Aula RS Ciputra, Citra Raya, Panongan, 28-29 Nopember 2018.
Acara ini dihadiri Bupati Tangerang, pejabat Kemenkes RI, Kepala Dinas Kesehatan, kepala OPD terkait, dan 15 kepala puskesmas.
Sesuai keterangan, Kabupaten Tangerang menjadi salah-satu daerah terbesar dalam penemuan kasus Kusta dan Frambusia di Provinsi Banten, yang berada di 15 wilayah binaan puskesmasnya.
Yaitu di wilayah binaan Puskesmas Balaraja, Puskesmas Sukawati, Puskesmas Kresek, Puskesmas Pasirnangka, Puskesmas Pasir Jaya, Puskesmas Sindang Jaya, Puskesmas Teluk Naga, Puskesmas Kedaung Barat, Puskesmas Sukadiri, Puskesmas Kronjo, Puskesmas Sukamulya, Puskesmas Gunung Kaler, Puskesmas Rajeg dan Puskesmas Jayanti.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr Dwi Yanto, menjelaskan penyakit Kusta dan Frambusia adalah penyakit kulit yang dapat menyerang sekujur tubuh tetapi dapat disembuhkan.
“Untuk mengeliminasi penemuan penyakit tersebut membutuhkan komitmen bersama, seperti yang saat ini kita lakukan bersama,” katanya.
Diakui salah-satu penyebab penyakit Kusta dan Frambusia adalah tidak diterapkannya pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Diharapkan dengan menggalakkan PHBS, nantinya bisa menurunkan angka penemuan kasus Kusta dan Frambusia.
Terkait itu, dinkes dibantu para petugas puskesmas siap semakin menggencarkan sosialisasi dan melakukan pembinaan kepada masyarakat bersama para kader untuk melakukan pencegahannya.
Diyakini dengan mengenali tanda-tandanya dan diobati, penyakit Kusta dan Frambusia bisa diturunkan sampai di bawah 1 persen, ucap dr Dwi Yanto.