Awali ORI Gelombang III, Petugas Kesehatan Divaksin Difteri

TIGARAKSA – Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang kembali melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri. Kali ini, pelaksanaan ORI Gelombang III diawali dengan pemberian imunisasi bagi para pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang.
Kegiatan itu dilangsungkan di ruang Seksi Survelans Imunisasi dan Penanggulangan Krisis pada Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Jumat (24/3/2018).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr Hendra Tarmizi MARS, menjelaskan pelaksanaan ORI ini sebagai tindak-lanjut dari pelaksanaan ORI sebelumnya. “Yang pertama telah kita laksanakan pada bulan Januari, kedua pada bulan Pebuari, dan kali ini yang ketiga. Kegiatan ini sesuai arahan Kemenkes RI.”
Pelaksanaan ORI sendiri dilakukan bagi seluruh anak usia 1 tahun-19 tahun kurang 1 hari dalam 3 tahapan. ORI ini harus bisa mencapai target 95% sasaran sebagai upaya memutuskan transmisi penularan penyakit Difteri, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya.
Untuk itu, diharapkan bantuan dan dukungan masyarakat di seluruh wilayah agar bisa mencapai target yang ditetapkan, karena bila pelaksanaan ORI kurang dari 95% maka dikhawatirkan Difteri bisa melakukan penularannya kembali kepada yang lain, terutama pada balita, ucap dr Hendra Tarmizi MARS.
Lebih lanjut, disampaikan para petugas kesehatan hanya dapat melakukan tugasnya melakukan pencegahan penyakit tersebut, namun bila tidak ada bantuan dan dukungan dari masyarakat dan elemen terkait lainnya, maka upaya memutuskan transmisi penularan Difteri tidak akan tercapai sesuai harapan.
“Jangan sampai ke depan masa ada kejadian Difteri di wilayah ini, yang akhirnya pemerintah terutama jajaran dinas kesehatan yang disalahkan,” pungkas Hendra Tarmizi MARS.
 
KENALI DIFTERI
ORI adalah suatu kegiatan imunisasi secara massal sebagai upaya memutuskan transmisi penularan penyakit difteri pada anak usia 1 tahun sampai dengan 19 tahun kurang 1 hari yang tinggal di daerah kejadian luar biasa (KLB), tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya.
ORI dilaksanakan sebanyak tiga putaran, dengan interval  0, 1, dan 6 bulan. ORI memberikan vaksin dengan ketentuan DPT-HB-Hib bagi usia 1 tahun sampai 5 tahun, DT  usia 5 tahun sampai 7 tahun, serta TD usia 7 tahun  sampai 19 tahun kurang 1 hari.
Pelaksanaannya dilakukan di sekolah-sekolah, mulai TK/PAUD, SD/MI/sederajat, SMP/MTS/sederajat, SMA/MA/sederajat, perguruan tinggi/universitas, rumah sakit, puskesmas, posyandu, day-care, apartemen, rusun, dan pos vaksinasi lain yang ditetapkan puskesmas. 
Difteri sendiri disebabkan infeksi bakteri Corynebacterium Diptheriae yang dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti sumbatan saluran nafas serta peradangan pada otot jantung, bahkan kematian.
Adapun gejalanya, a.l: demam, sakit menelan, selaput putih keabu-abuan di tenggorokan, leher membengkak, dan sesak nafas disertai suara mengorok.
Selain itu, bakteri Corynebacterium Diptheriae pun akan mengeluarkan racun Difteri yang bisa membuat peradangan otot jantung dan akhirnya menyebabkan kematian. Pengobatannya yaitu rawat inap di ruangan isolasi, pemberian antibiotik, dan jika perlu diberikan anti racun Difteri atau Anti Difteri Serum.