Puskesmas Pasar Kemis Sosialisasi Kusta Bukan Kutukan

PASAR KEMIS – (24/1/2017) Penyuluhan bahwa penyakit Kusta bukan penyakit kutukan terus disampaikan jajaran petugas kesehatan Puskesmas Pasar Kemis kepada masyarakat di desa dan kelurahan binaannya.
Kepala Puskesmas Pasar Kemis, dr Hj Salwah, Senin (23/1/2017), mengakui awalnya memang terasa sulit menemukan dan mengobati penderita Kusta karena banyak warga yang tidak mau diperiksa, sesuai mitos berkembang bahwa penderita Kusta terkena kutukan.
Namun setelah mendapat penjelasan dan pembinaan dari para petugas puskesmas akhirnya masyarakat memahami bahwa penyakit Kusta yang juga dikenal dengan nama Lepra atau Penyakit Hansen adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata. Sistem saraf yang diserang bisa menyebabkan penderitanya mati rasa.
Penyakit Kusta disebabkan sejenis bakteri yang memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita selama 2 hingga 10 tahun.
“Penderita harus sedini mungkin mendapatkan pengobatannya karena bila terlambat akan mengakibatkan kecacadan pada beberapa bagian tubuh seumur hidup. Namun bila segera mendapat penanganan intensif bisa terhindar dari kecacadan,” kata Shalwah.
Terkait itu, jajaran petugas Puskesmas Pasar Kemis kini secara terprogram, rutin melaksanakan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat di luar gedung di setiap bulannya. Masyarakat pun menyambut positif kehadiran petugas kesehatan melakukan kunjungan dan pengobatan ke rumah-rumah penderita.
H Yanto, Pemegang Program Klinik Kusta pada Puskesmas Pasar Kemis, menjelaskan sampai saat ini pasien Kusta yang masih dalam pengobatan tercatat 14 pasien, terinci pasien berpenyakit Kusta tipe Multi Basiler (Mb) 9 orang dan tipe Pause Basiler (Pb) 5 orang.
Memberikan penyembuhannya, untuk Pb maka pasien wajib meminum obat secara rutin selama 6 bulan dan untuk tipe Mb wajib minum obat selama setahun. “Untuk tipe Pb sudah ada yang selesai minum obat sebanyak 4 orang, sedang yang tipe Mb 1 orang. Sedangkan yang lain masih dalam pengobatan.”
Ditambahkan pasien yang sudah selesai minum obat tetap dalam pengawasan petugas. “Sebab itu mereka tetap dianjurkan melakukan kontrol di setiap bulan ke puskesmas.